An essay for whoever takes this seat next
The Things I Wish Someone Told Me & Wish I Knew Sooner.
“Pekerjaan terbaik seorang PM bukan mengatur orang — tapi membuat mereka tidak perlu diatur.”
Tulisan ini bukan tutorial. Kalau kamu butuh teori Agile atau Scrum, buka saja PMI Knowledge Library atau Atlassian Agile Coach — jauh lebih lengkap. Ini cuma catatan pribadi. Hal-hal yang saya pelajari dari mengoordinasikan tim, melihat proyek melenceng, memperbaiki rencana yang kelewat optimis, dan kadang-kadang menyelamatkan situasi tepat sebelum semuanya keburu hancur.
Kenapa sekarang? Karena semuanya bergerak lebih cepat dari yang saya kira. Di Emveep, saya lihat sendiri — dulu bikin MVP klien butuh 6 minggu, tim 4 orang. Sekarang satu engineer pakai Claude Code, Codex, atau Lovable bisa kelar versi awalnya dalam satu akhir pekan. Pertanyaannya bergeser: bukan lagi “bagaimana cara membangun ini?” tapi “apakah ini memang layak dibangun, untuk siapa, dan apa risikonya kalau kita salah baca?”
Di situlah PM masih punya tempat. Bukan sebagai pencatat task — Trello, Notion, Jira, AI agent sudah bisa handle itu. Tapi karena seseorang tetap harus pegang konteks: konteks bisnis, pengguna, tim, waktu, dan politik kecil yang tidak pernah tertulis di dokumen mana pun. Hal-hal begitu tidak masuk prompt. Padahal di sanalah keputusan yang paling penting dibuat.
Yang kamu baca ini bukan kebenaran mutlak. Cuma hal-hal yang saya harap ada orang bilang ke saya lebih awal. Ambil yang berguna, tinggalkan sisanya. Pada akhirnya kamu tetap harus cari jalanmu sendiri.
Planning bukan tentang jadwal. Tentang asumsi.
Setiap Gantt chart yang saya buat di awal karier ternyata fiksi. Bukan karena timnya buruk — tapi karena saya kira planning itu soal memprediksi waktu. Padahal sebenarnya soal memetakan ketidakpastian.
Yang paling mahal saya pelajari: jadwal proyek itu bukan kontrak dengan kenyataan. Itu hipotesis. Setiap deadline yang kamu tulis sebenarnya penuh asumsi tersembunyi — dependency bakal selesai tepat waktu, requirement tidak berubah, orangnya tidak sakit, scope creep tidak terjadi. Hofstadter’s Law mengatakannya paling baik: “It always takes longer than you expect, even when you take into account Hofstadter’s Law.”
Jadi sekarang saya melakukan dua hal yang berbeda dari kebanyakan PM:
Saya membuat asumsi eksplisit, bukan jadwal
Setiap milestone diikat dengan asumsi yang harus benar. Kalau asumsinya berubah, jadwalnya otomatis berubah. Ini bukan ide saya — saya pinjam dari framework BCG tentang Discovery-Driven Planning dan konsep assumption mapping yang juga dibahas di Strategyzer.
Saya selalu memisahkan komitmen dari perkiraan
Stakeholder boleh tahu perkiraan, tapi yang mengikat cuma komitmen. Perkiraan itu pekerjaan kamu — komitmen itu janji. Banyak konflik PM-stakeholder muncul gara-gara dua hal ini dicampur jadi satu.
Risk register itu bukan dokumen — tapi kebiasaan
Risk register paling efektif yang pernah saya punya cuma 5 menit di awal setiap weekly: “Apa yang bikin kamu khawatir minggu ini?” Tabel di Confluence yang tidak pernah di-update kalah jauh. Jawaban tim selalu lebih jujur daripada apa pun yang ditulis di dokumen formal. Soal kenapa ini bekerja, baca riset psychological safety dari Amy Edmondson di Harvard dan studi Project Aristotle Google.
Stakeholder mapping dilakukan sebelum kamu butuh
Pelajaran mahal lainnya: mengelola stakeholder itu bukan keterampilan komunikasi — itu keterampilan politik. Dan saya tidak bermaksud negatif. Setiap stakeholder punya KPI sendiri, tekanan dari atasannya sendiri, dan ketakutannya sendiri. Tugas kamu: pahami semua itu sebelum kamu perlu minta sesuatu dari mereka. Stakeholder Analysis dari MindTools titik awal yang oke, dan artikel HBR soal influence management melengkapi sisanya.
- PMBOK Guide 7th Edition — Standar global PM, terutama bagian principles-based approach.
- Shape Up — Basecamp — Alternatif planning yang lebih realistis daripada Sprint biasa.
- Discovery-Driven Planning — McGrath & MacMillan, HBR
- “Making Things Happen” — Scott Berkun — Buku PM terbaik yang pernah saya baca.
AI tools tidak menggantikanmu. Tapi PM yang tidak pakai AI akan tergantikan.
Bukan opini. World Economic Forum Future of Jobs Report 2025 menaruh AI literacy di posisi kedua skill paling dicari. Datanya sudah jelas.
Dulu saya skeptis. Saya pikir AI cuma bisa bikin ringkasan rapat yang dangkal dan email yang kedengarannya palsu. Ternyata yang salah bukan AI-nya — saya yang salah pakai. Saya perlakukan AI seperti asisten yang disuruh-suruh. Begitu saya ubah jadi thinking partner yang menantang asumsi saya, hasilnya beda jauh.
Pergeseran mental: dari prompt ke konteks
Istilah “prompt engineering” sudah mulai usang. Yang lebih penting sekarang: context engineering — gimana caranya kasih AI konteks yang cukup supaya dia bisa berpikir bareng kamu, bukan cuma menjawab. Anthropic dan Latent Space sudah menulis soal ini dengan baik.
Contoh kecil: saya tidak pernah lagi ketik “buatkan saya project plan”. Saya tulis dulu konteksnya 5–10 menit — siapa stakeholder-nya, batasannya apa, sejarah masalahnya gimana, gaya komunikasi timnya seperti apa. Baru minta bantuan. Hasilnya beda jauh.
Empat tempat AI mengubah pekerjaan harian saya
- Synthesis rapat & dokumen — Claude buat merangkum 1 jam rapat jadi action items, open questions, dan decision log. Bukan transkrip — tapi ringkasan yang bisa langsung ditindaklanjuti. Microsoft Work Trend Index bilang rata-rata pekerja hemat 30 menit per hari dari ini saja.
- Stakeholder communication — Nulis email ke stakeholder itu susah, apalagi kalau lagi frustrasi. AI bantu saya atur ulang nada tanpa kehilangan substansi. Menurut survey HBR, komunikasi memang use case nomor satu.
- Risk & pre-mortem analysis — Saya suruh AI jadi “PM senior yang skeptis” dan kritik rencana saya. Teknik pre-mortem dari Gary Klein jadi jauh lebih tajam kalau ada sparring partner yang tidak capek.
- Knowledge retrieval — Notion AI dan Atlassian Intelligence bisa cari konteks lintas dokumen. “Keputusan kita soal X tiga bulan lalu apa?” — jawaban dalam hitungan detik.
Tools yang saya pakai aktif setiap hari
Daftar lengkap ada di bagian Stack. Tapi prinsipnya: pilih 3–4 tools, pakai dalam-dalam. Bukan koleksi. a16z juga bilang hal yang sama soal ekonomi GenAI — nilainya ada di kedalaman penggunaan.
Tahun 2026 adalah tahun agen. Tapi mereka butuh PM.
Dua tahun lalu semua ribut soal chat, tahun lalu soal tools. Sekarang gilirannya agents: AI yang mengeksekusi, bukan cuma menjawab. Buat PM, ini mengubah apa yang disebut “tim”.
Beberapa bulan lalu saya coba men-deploy agen otonom di VPS berbayar — Openclaw — untuk workflow competitive intelligence yang biasanya makan waktu 3 hari analis junior. Agen ini jalan 24/7: menelusuri sumber, kirim ringkasan harian ke WhatsApp saya, eksekusi task ringan. Hasil pertama keluar dalam 40 menit, kualitasnya setara. Tapi tetap — saya harus review, arahkan ulang, dan putuskan. Agen menggantikan eksekusi, bukan penilaian.
Apa itu “agen” sebenarnya?
Definisi yang saya pakai dari “Building Effective Agents” oleh Anthropic: agen adalah sistem di mana LLM secara dinamis mengarahkan proses dan penggunaan toolnya sendiri. Bedanya dengan workflow biasa: agen memutuskan sendiri langkah selanjutnya, bukan mengikuti alur yang sudah di-hardcode.
Mengelola agen = mengelola tim baru
Lucunya, prinsip mengelola agen ternyata mirip banget dengan onboarding anggota tim baru:
- Onboarding adalah investasi besar di depan. Beri agen konteks lengkap — dokumen, contoh hasil yang baik, batas yang jelas. Riset “Prompt Patterns” di arXiv mendukung ini.
- Tetapkan “definition of done” yang ketat. Agen jago mengejar metrik, payah menebak intent. Jadi tulis semuanya eksplisit.
- Review awal, kemudian sampling. Awal-awal: review 100% output. Setelah kepercayaan terbangun: sample 10–20%. Sama seperti mengelola junior.
- Human-in-the-loop di setiap titik berisiko tinggi. Approval, eksekusi yang tidak bisa dibatalkan, atau keputusan dengan implikasi reputasi — selalu human gate. Ini adalah inti rekomendasi NIST AI Risk Management Framework.
Stack agen sederhana yang saya jalankan
Kalau baru mulai, ada dua jalur. Pilih tergantung seberapa besar kamu peduli soal kontrol data:
Jalur 1 — Managed (cepat mulai, tapi data di server orang lain):
- Zapier Agents atau Make — Automation visual untuk task berulang.
- Lindy atau Relay.app — Workflow AI-first yang lebih natural.
- MCP (Model Context Protocol) — Standar terbuka dari Anthropic untuk menghubungkan AI ke tools yang sudah kamu pakai (Jira, Notion, Linear, Gmail). Ini akan menjadi standar industri.
Jalur 2 — Self-hosted (data di tangan kamu, perlu sedikit setup):
- Openclaw — Agen AI otonom open-source yang berjalan di mesin sendiri (PC, VPS, atau Raspberry Pi). Yang bikin beda, dia bisa mengeksekusi aksi nyata (membaca/menulis file, menjalankan skrip, mengirim pesan) lewat WhatsApp atau Discord. Saya pakai ini sebagai asisten pribadi 24/7 — monitoring sumber riset, ringkasan harian, dan eksekusi task ringan. Dan data tidak pernah meninggalkan mesin saya, itu alasan utama saya pilih ini.
- OpenRouter — Akses ke berbagai LLM (GPT, Claude, Gemini) dalam satu API. Berguna untuk agen self-hosted yang butuh fleksibilitas model.
Saya sendiri pakai kombinasi keduanya. Managed untuk workflow yang melibatkan service luar (Notion, email klien). Self-hosted untuk yang sensitif atau yang saya mau kontrol penuh.
Ketika MVP dibuat dalam akhir pekan, peran PM berubah.
Tools seperti Lovable, Claude Code, dan Codex sudah mengubah ekonomi pembuatan MVP. Yang dulu butuh 2 sprint sekarang bisa selesai 2 hari. Kalau kamu masih mengukur produktivitas dari velocity story points, kamu mengukur hal yang salah.
Saya baru percaya setelah lihat sendiri: engineer di tim Emveep bangun fitur internal lengkap — frontend, auth, database — dalam satu malam pakai Lovable. Bukan prototype. Functional MVP. Kerjaan yang dulu butuh 3 orang selama sebulan.
Tools yang saya pakai dan untuk apa
- Lovable — Aplikasi full-stack lengkap dengan database & auth. Bagus untuk MVP SaaS dan demo cepat ke klien. Ini favorit saya untuk validasi konsep awal.
- Claude Code — Terminal-based, paling kuat untuk codebase yang sudah ada. Saya pakai untuk internal tools dan diskusi teknis dengan tim engineering.
- Codex — Sebagai pelengkap Claude Code. Pendekatan yang berbeda terhadap masalah yang sama sering memberi insight baru.
- Tools lain yang relevan untuk diketahui: v0 by Vercel (komponen UI), Bolt.new (browser-based full-stack), Cursor (IDE AI-native). Pilih yang sesuai konteks pekerjaanmu.
Apa artinya bagi peran PM?
Discovery jadi lebih penting dari delivery. Kalau membangun jadi murah, pertanyaan yang paling mahal adalah “apa ini memang perlu dibangun?” Marty Cagan dan Teresa Torres sudah lama bilang ini — sekarang argumennya makin sulit dibantah.
PM harus bisa bikin prototype sendiri. Bukan untuk menggantikan engineer — tapi supaya kamu bisa:
- Validasi ide tanpa nunggu antrian development
- Komunikasikan spesifikasi lewat demo, bukan dokumen
- Tes asumsi UX sama user nyata dalam hitungan jam
- Pahami batasan teknis secara nyata, bukan cuma teori
Definisi “ready” berubah total. Karena MVP jadi murah, saya menyaring lebih ketat di depan. Mending batalkan 3 ide buruk lewat AI prototype dalam seminggu daripada bangun 1 ide buruk selama sebulan pakai tim penuh. Andrew Chen di The Cold Start Problem juga bicara soal pentingnya ini di tahap awal.
Catatan penting: vibe coding bukan rekayasa perangkat lunak
Saya lihat banyak PM yang kelewat semangat terus langsung pakai output AI tools untuk produksi tanpa review teknis. Itu berbahaya. Untuk prototype dan validasi — silakan. Tapi untuk produksi customer-facing, kamu tetap butuh engineer yang review keamanan, skalabilitas, dan maintainability. Guillermo Rauch (founder Vercel) juga menulis soal ini.
- Silicon Valley Product Group (Marty Cagan) — Esensi discovery vs delivery.
- Continuous Discovery Habits — Teresa Torres
- Lenny’s Newsletter — Studi kasus PM modern.
- Every — Chain of Thought (Dan Shipper) — Eksperimen aktual menggunakan AI untuk produk.
Hal yang AI tidak akan pernah bisa lakukan untukmu.
Bab-bab sebelumnya banyak bicara soal tools. Tapi kalau dipikir-pikir, kemampuan PM yang paling penting justru yang paling susah didelegasikan ke AI. Membaca ruangan. Bangun kepercayaan. Tahu kapan harus diam.
Membaca ruangan bukan keterampilan lunak — itu pekerjaan kerasmu
Engineer senior yang biasanya vokal tiba-tiba diam di meeting. Designer merespons ide kamu dengan “menarik”. Stakeholder cuma balas email dengan “Noted.” Semua itu sinyal, dan PM yang baik menangkapnya real-time. AI tidak bisa. HBR menyebutnya contextual intelligence.
Tiga hal yang saya lakukan untuk membangun trust dengan tim
- 1:1 yang sungguh-sungguh, bukan status update. Saya tidak pernah membuka 1:1 dengan “bagaimana progress X?”. Saya buka dengan “bagaimana kabarmu minggu ini?”. Status ada di tools. 1:1 untuk hal yang tidak ada di tools. Lihat panduan 1:1 dari Lattice untuk frameworknya.
- Mengakui ketidaktahuan secara publik. “Saya tidak tahu, mari kita cari tahu” mengembalikan banyak credibility, bukan menghilangkannya. Konsep ini diteliti oleh Brené Brown di “Dare to Lead”.
- Mengambil tanggung jawab penuh ketika ada masalah, kredit penuh untuk tim ketika berhasil. Kedengarannya klise, tapi saya belum nemu penggantinya.
Memberi feedback itu bisa dilatih
Saya butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar memberi feedback dengan baik. Dua framework yang paling membantu:
- Radical Candor — Kim Scott — “Care personally, challenge directly”. Satu pilar tanpa yang lain malah jadi berbahaya.
- The Feedback Fallacy — HBR (Buckingham & Goodall) — Argumen kontra-intuitif bahwa banyak praktik feedback standard justru merusak.
Konflik itu informasi
Dua engineer debat soal arsitektur? Itu bukan drama. Itu informasi tentang trade-off teknis yang sedang dipertaruhkan. Tugas PM bukan meredam konflik, tapi memastikan konfliknya soal ide, bukan soal orang. “Five Dysfunctions of a Team” dari Patrick Lencioni framework yang paling berguna untuk ini.
- Google re:Work — Project Aristotle
- Radical Candor — Kim Scott
- Dare to Lead — Brené Brown
- Farnam Street — Mental models untuk pengambilan keputusan.
Berhentilah mencari “career path”. Bangun career portfolio.
Nasihat paling tidak berguna yang pernah saya terima: “rencanakan jenjang kamu 5 tahun ke depan.” Dunia bergerak terlalu cepat untuk itu. Yang saya pelajari justru kebalikannya: jangan optimasi untuk posisi — optimasi untuk kemampuan dan jangkauan.
Tiga jenis modal yang harus dikembangkan PM
Saya mencuri framework ini dari Henrik Karlsson dan menyesuaikan untuk PM:
- Modal pengetahuan — Pemahaman teknis, industri, dan domain. Investasi: belajar terus-menerus. Sumber favorit saya: Stratechery (Ben Thompson) untuk strategi, Not Boring (Packy McCormick) untuk industri, Lenny’s Newsletter untuk PM craft.
- Modal jaringan — Bukan hanya jumlah koneksi, tapi kualitas dan keragaman. PM yang baik tahu cara mendapat jawaban dari orang yang tepat, cepat. “Never Eat Alone” — Keith Ferrazzi klasik di topik ini.
- Modal reputasi — Apa yang orang katakan tentang kamu saat kamu tidak ada di ruangan. Bangun ini dengan: pengiriman konsisten, transparansi tentang kegagalan, dan kemurahan hati.
Belajarlah output secara publik, bukan hanya konsumsi
Saya menyesal tidak mulai menulis lebih awal. PM-PM yang saya kagumi punya satu kesamaan: mereka semua punya output publik — tulisan, podcast, atau karya. Bukan untuk jadi influencer, tapi untuk kejelasan berpikir. Paul Graham menjelaskan alasannya lebih baik dari saya.
Pertanyaan untuk menemukan kelebihanmu sendiri
Setiap kuartal saya menulis ulang jawaban untuk 4 pertanyaan ini. Mereka membantu saya tetap jujur:
- Apa yang saya kerjakan dengan mudah, padahal orang lain susah?
- Topik apa yang saya bicarakan tanpa lelah, di mana pun?
- Skill apa yang akan jadi langka 3 tahun lagi, dan saya bisa kembangkan sekarang?
- Saya iri sama siapa, dan sebenarnya iri soal apa?
Dan akhirnya: tentang ambisi yang masuk akal
Industri tech suka sekali narasi “10x harder, 10x faster”. Saya pernah hidup begitu. Saya juga pernah burnout karenanya. Yang akhirnya saya sadari: karier panjang dibangun dari keberlanjutan, bukan intensitas. Cal Newport di “Slow Productivity” menulis soal ini dengan baik. Tidak semua hal harus dikerjakan sekarang. Tidak semua kesempatan harus diambil.
- Lenny Rachitsky — Konten PM modern paling konsisten.
- Ben Thompson — Stratechery — Cara berpikir tentang strategi tech.
- Cal Newport — Karier & produktivitas yang berkelanjutan.
- Henrik Karlsson — Esai jangka panjang tentang berpikir & karier.
- Paul Graham — Essays
Yang sebenarnya saya pakai. Tidak lebih, tidak kurang.
Claude
Reasoning panjang, analisis dokumen, drafting komunikasi sensitif, dan deep research. Context window besar membuat analisis lintas dokumen tetap menjaga nuansa.
ChatGPT
Saya pakai sebagai second opinion. Ketika satu model setuju, oke. Ketika dua model setuju di sudut yang berbeda — saya lebih percaya keputusan saya.
Trello
Visual kanban yang sudah teruji. Untuk proyek klien dan tim yang butuh lihat status dengan cepat tanpa belajar tool baru. Simpel, jelas, langsung jalan.
Notion
Single source of truth untuk semua dokumentasi proyek. PRD, retrospective, knowledge base klien, hingga personal SOP — semua di satu tempat.
Lovable
Untuk validasi konsep klien dalam hitungan jam, bukan minggu. Sebagai PM di software house, ini mengubah cara saya melakukan scoping — saya bisa menunjukkan demo, bukan mockup.
Openclaw
Agen AI otonom self-hosted yang bisa mengeksekusi aksi nyata. Berjalan di mesin sendiri, terintegrasi dengan WhatsApp/Discord, dan punya akses ke tools seperti browsing, email, dan kalender.
Claude Research + Openclaw
Kombinasi yang saya pakai untuk competitive intelligence. Claude untuk reasoning & sintesis mendalam, Openclaw sebagai agen yang menelusuri internet real-time, memonitor sumber, dan mengirim hasilnya langsung ke WhatsApp saya.
Claude Code + Codex
Untuk PM software house, kemampuan membaca dan mendiskusikan kode bukan opsional. Dua tools ini membantu saya tetap relevan dalam diskusi teknis dengan tim engineering.
Fathom
Transcription + action items otomatis untuk setiap meeting klien dan internal. Saya tidak perlu sibuk mencatat — saya bisa hadir dan benar-benar mendengarkan.
Bukti dalam pengiriman.
Teori yang tidak diuji adalah opini. Berikut beberapa proyek yang saya tangani — masing-masing mengajari saya pelajaran yang berbeda. Ada yang berhasil, ada yang hampir gagal. Semuanya mengubah cara saya berpikir.
Booking System Active
AI Voice Ordering Platform
AI Game Design & Maker
Web3 Web Application
Community Engagement Mobile App
Catatan: Sebagian besar proyek di atas berada di bawah NDA, jadi nama klien dan detail teknis spesifik tidak bisa saya bagikan secara publik. Tapi pelajarannya — itu yang ingin saya wariskan. Untuk diskusi lebih mendalam tentang salah satu proyek di atas, silakan hubungi saya langsung.
Enam prinsip untuk PM
di era yang penuh ketidakpastian.
I. Konteks > Tools
Tools bisa diganti besok. Konteks bisnis, pengguna, dan tim yang kamu bangun — itu yang tahan lama.
II. Bertanya > Memberitahu
PM yang baik bertanya 5x lebih banyak daripada memberi pernyataan. Orang lebih terbuka kalau ditanya daripada diberi tahu.
III. Iterasi > Sempurna
Versi 1 yang dikirim mengalahkan versi sempurna yang tidak pernah ada.
IV. Sistem > Heroik
Kalau proyek bergantung pada satu orang menjadi pahlawan, sistemnya rusak. Bangun proses, bukan ketergantungan.
V. Tulis > Bicara
Tulisan memaksa kejelasan. Pikiran yang tidak bisa ditulis biasanya pikiran yang tidak jelas.
VI. Trust > Otoritas
Sebagian besar PM tidak punya otoritas formal. Kekuatan datang dari kredibilitas. Bangun pelan-pelan. Sekali rusak, hampir tidak bisa diperbaiki.
Saya tidak tahu siapa yang akan baca ini. Mungkin kamu baru mulai jadi PM. Mungkin sudah lama tapi sedang bertanya-tanya soal arah. Yang pasti, tantangan kamu akan beda dari punya saya.
Tools bakal berubah. Tim juga. Stakeholder datang dan pergi. Bahkan definisi “project manager” mungkin kedengarannya aneh lima tahun dari sekarang.
Yang saya tinggalkan bukan peta. Ini cuma kompas.
Bab-bab di atas adalah cara saya membaca dunia kerja per Mei 2026. Sebagian mungkin tetap relevan. Sebagian lagi mungkin sudah basi sebelum kamu selesai membaca.
Terserah kamu mau ambil yang mana dan tinggalkan yang mana.
Tapi kalau ada satu hal yang saya percaya tidak akan cepat usang: orang-orang di sekitarmu.
Engineer yang stuck di bug Jumat malam. Designer yang diam-diam tidak yakin dengan hasilnya. Stakeholder yang takut terlihat gagal di depan atasan. Junior yang sebenarnya butuh arahan, tapi terlalu takut bertanya.
Mereka semua butuh seseorang yang melihat mereka.
Yang bikin mereka aman untuk bicara jujur. Yang bantu mereka lihat prioritas. Yang cukup peduli untuk bertanya — bukan cuma menagih.
Itu pekerjaan kita yang sesungguhnya.
AI tidak mengambil bagian itu. Malah sebaliknya — kalau dipakai dengan benar, AI membebaskan waktu kita untuk melakukannya lebih baik.
Pergilah membuat sesuatu yang baik.
Pergilah merawat orang-orangmu.
Dan semoga kamu menjadi PM yang lebih baik daripada saya.

